Fragmen Ruang Sidang
“Yang Gugur Tak Tercatat di Risalah” --- Ia datang bukan untuk membela. Tapi untuk bertahan — dari dirinya sendiri. Setelan jasnya masih hitam, seperti para pelayat yang datang terlambat. Di tangan kanan: map. Di tangan kiri: sunyi. Lorong menuju ruang sidang tak pernah berubah: lampu yang kuning lelah, udara pengap yang tak bisa dibersihkan pendingin udara, dan wangi yang tak bisa dijelaskan — percampuran antara tinta, keringat, dan sesuatu yang menyerupai penyesalan. Ia melangkah tanpa suara. Karena di gedung ini, suara bukan untuk menyuarakan. Hanya untuk menyamakan irama — irama diam. Dulu ia bicara tentang pasal. Tentang doktrin. Tentang keadilan. Sekarang ia lebih banyak bicara dalam matanya sendiri, di depan cermin kamar mandi. “Apa bedanya aku dan mereka yang kubenci?” “Apakah menolak sistem adalah bentuk pengkhianatan, atau justru pengkhianatan terbesar adalah beradaptasi terlalu lama?” Setiap berkas yang ia tulis kini terasa seperti surat permintaan maaf yang tak ...