Islam dan Orientalisme
"Maka mengapa mereka mencari agama yang
selain Allah, padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri
kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya
mereka dikembalikan"
(Qs Ali Imran:83)
Orientalisme adalah suatu gerakan yang timbul di zaman modern,
pada bentuk lahirnya bersifat ilmiyah, yang meneliti dan memperdalam masalah
ketimuran. Tetapi di balik penelitian masalah ketimuran itu mereka berusaha
memalingkan masyarakat Timur dari Kebudayaan Timurnya, berpindah mengikuti
keinginan aliran Kebudayaan Barat seutuhnya.
Orientalis adalah kumpulan Sarjana-sarjana Barat, Yahudi,
Kristen, Atheis dan lain-lain, yang mendalami bahasa-bahasa Timur (bahasa Arab,
Persi, Ibrani, Suryani dan lain-lain), terutama mempelajari bahasa Arab secara
mendalam. Studi ini mereka gunakan untuk memasukkan ide-ide dan faham-faham
yang bathil ke dalam ajaran Islam, agar aqidah, ajaran dan da’wah Islam
merosot, berkurang pengaruhnya terhadap masyarakat, tak berbekas dalam
kehidupan, tidak mampu mengangkat derajat kemanusiaan, tidak berperan lagi
untuk melepaskan manusia dari perhambaan pada makhluk, dan tujuan Islam tak
kunjung tercapai dalam mengeluarkan manusia dari kegelapan-kegelapan
(Zhulumaat: kufur, syirik, fasik, lemah, bodoh, tertindas, miskin, dijajah,
dianiaya, dan dalam keadaan terbelakang dalam segala bidang) menuju An Nur
(kebalikan dari Zhulumaat, yaitu bertauhid, iman, kuat, pintar, cerdas, adil,
aman, makmur, maju dan lain sebagainya). Seperti kita ketahui, bahwa segala tipu daya dan kebatilan yang
mereka resapkan sedikit demi sedikit telah masuk ke dalam kebudayaan Islam dan
berakibat mengurangi peranan Islam dalam penyiaran ilmu pengetahuan yang telah
membawa Eropa dari zaman pertengahan (masa kebodohan dan kegelapan) ke masa
kejayaan masa modern (yang sekarang telah menjadi kebanggaan para Sarjana
Barat).
Pihak Orientalisme berusaha keras menyerang Islam, dan
menggerogoti da’wahnya, sebab mereka tidak mampu melepaskan diri dari pengaruh
nafsu hendak memusuhi Islam yang mereka warisi. Usaha mereka itu tidak saja
secara sembunyi-sembunyi dan menaburkan benih-benih keragu-raguan terhadap
sumber Islam, memasukkan kebatilan-kebatilan ke dalam ajaran syari’at,
menggiring ummat Islam ke dalam aliran fikiran yang rancu, dan menyerang bahasa
Arab (bahasa al Qur’an), tapi juga terang-terangan membantu propaganda gerakan
yang berselubung di bawah nama Islam yang menyesatkan. Juga para
Orientalis memonopoli semua mass media, yang digunakan untuk membinasakan dan
menjauhkan ummat Islam dari agamanya, bahkan merusakkan putera-puteri Muslim
yang belajar di sekolah-sekolah dan di negeri mereka. Di bawah ini akan
kita uraikan bahaya Orientalisme ini, tujuannya dalam memerangi Islam dan
menggerogoti da’wah, alat yang dipergunakannya dalam usaha mereka baik yang
nyata maupun yang tersembunyi, usaha dan langkah yang perlu kita lakukan untuk
melegaskan bahaya, serta tangkisan kita terhadap tipu daya musuh-musuh Islam
dan lain-lainnya.
1. Timbulnya Orientalisme.
Salahlah orang yang berpendapat bahwa Orientalisme gerakan
ilmiyah yang tujuannya hanya memperdalam masalah ketimuran saja (kepercayaan,
adat dan peradabannya). Sebenamya Orientalisme hakekat dan kenyataannya adalah
alat Penjajah, tujuan Orientalisme ini ialah “memakai dan mempergunakan
penelitian masalah ketimuran sebagai langkah untuk menyerang/memerangi Islam,
menimbulkan rasa keragu-raguan terhadap sumber-sumber Islam agar ummat Islam
berpaling dari agamanya, agar ummat Islam jangan sampai pada kemuliaan dan kekuatannya,
tetapi hanya selalu mengekor kepada Barat, dan selalu taqlid masa bodoh dan
apatis, melihat segala macam jenis kejahatan dan kemerosotan di negeri
mereka.
Orientalisme ini hakekatnya adalah lanjutan dari perang Salib,
melawan Islam, sebab sebenarnya perang Salib ini belum berhenti, tetapi hanya
mengambil bentuk dan warna yang berbeda, di antaranya
Orientalis. Orientalis muncul dengan kedok sebagai para ahli untuk
mengadakan riset dan survey tentang sesuatu bidang ilmu pengetahuan dengan maksud
tertentu untuk memasukkan berbaga macam fitnah, menebarkan isue-isue;
melampiaskan segala isi hatinya dan kedengkiannya terhadap Islam, dan menulisi
Islam dengan pena yang beracun. Para Orientalis terang-terangan menolak sistim ilmu Islam yang
asli. Ini berakibat menyimpangnya ummat dari hakekat kebenaran, dan
meninggalkan hukum Islam. Orientalis tidak mungkin membiarkan Islam terlaksana
di tengah-tengah masyarakat.
Para Orientalis adalah antek-antek penjajah Barat terhadap
Negeri-negeri Timur dan Negeri Islam, karena gerakan Orientalis ini adalah
lanjutan dari Perang Salib dalam bentuk yang lain. Gerakan Orientalis
berkembang pesat dan sudah sampai berlanjut selama dua abad, perubahan yang
bergerak sebagai salah satu bentuk penjajahan. Asal kata
“Orientalisme” bahasa Arabnya al istisyraaq, mashdar fiil : Istasyraqa.
Artinya, “mengarah ke Timur dan memakai pakaian masyarakatnya.”
Para Orientalis (al Mustasyriqun) mendalami bahasa-bahasa Timur
sebagai langkah untuk mengarah ke sana. Masing-masingnya mempelajari satu
bahasa atau bermacam-macam bahasa Timur, seperti bahasa Arab, bahasa Parsi,
bahasa Ibrani, bahasa Urdu, Suryani, Indonesia, Melayu, Cina dan lain-lain.
Sesudah itu mereka mempelajari bermacam-macam ilmu pengetahuan, kesenian,
adab/sastra, kepercayaan masyarakat yang mempunyai bahasa tersebut di atas dan
lain-lainnya. Bahasa Arablah yang menjadi sasaran utama dari tujuan para
Orientalis ini. Memang para Orientalis sudah banyak yang mempelajari bahasa
Arab, dan menjadi spesialis dalam ilmu bahasa, seperti ahli Nahwu, ahli Sharaf,
ahli Sastra (Adab) dan ahli Balaghah. Kemudian mereka mulai menjurus pada
ilmu-ilmu Islamiyah, seperti: Aqidah, Syari’ah dan lain-lain, dan seterusnya
menambah Aqidah dan Syari’ah yang murni itu dengan kebatilan-kebatilan untuk mengaburkan
hakekat Islam dan memalingkan ummat dari agamanya yang menunjukinya ke jalan
kemajuan dan kemuliaan. Tujuan tersebut telah terlaksana dan mempengaruhi
kebudayaan negeri-negeri Islam
Bukti yang paling jelas mengenai hubungan Orientalisme dengan penjajahan
yaitu bahwa pasaran Orientalisme sangat pesat di Eropa, Amerika dan
negara-negara yang ada kepentingannya dengan negara Timur umumnya dan
negara-negara Islam pada khususnya. Kesempatan yang lebih luas lagi bagi
Orientalisme di negara-negara jajahan digunakan untuk mengendalikan peperangan
di negara-negara Timur dalam segala bentuknya, yang dikenal di zaman modern,
baik perang bersenjata (militer) maupun perang ekonomi, politik atau kebudayaan
atau perang fikiran. Bahkan hampir tidak terdapat Kedutaan-kedutaan
Negara-negara Penjajah di negeri-negeri Timur dan negara-negara Islam yang
tidak ada di dalamnya. “Orientalis” yang menduduki posisi/jabatan-jabatan
strategis pada kedutaan itu, baik diplomat atau pegawai biasa.
Sesungguhnya ikatan Orientalisme dengan penjajah dan
antek-anteknya menjadikan Orientalisme selalu meningkatkan usahanya dalam
menyesatkan Islam dan menggerogoti da’wah Islamiyah. Mereka menggunakan semua
alat, dalam penyesatan tersebut, sebab agama yang maha suci inilah satu-satunya
penghalang yang tangguh dalam menghadapi penjajahan dan perhambaan kepada
selain Allah. Para Orientalis mengetahui betul dalam penelitiannya terhadap
Islam bahwa aqidah Islam menanamkan dasar-dasar yang kokoh sesuai dengan fitrah
kemanusiaan, umum dan logis, sesuai dengan akal yang lempang, serta textnya
(nash-nash) yang tegas, di mana tidak memungkinkan bagi akal (otak) para ahli
fikir dan failasuf untuk membatalkan pokok yang satu ini dari sumbernya,
apabila mereka sudah terbiasa dengan manhaj ilmu yang benar. Justru karena itu
sejak dahulu, sejak timbulnya, Orientalisme selalu menanamkan bibit-bibit
penyelewengan terhadap Da’wah Islam dengan memasukkan kebatilan-kebatilan,
dengan kedok penelitian dan pembahasan ilmiyah yang berselubung.
Dengan demikian nyatalah bahwa Orientalisme merupakah pelindung
musuh-musuh Islam, Penjajah, Atheis, Zionis dan lain-lain. Di balik nama
Orientalisme ini bernaung apa yang dikatakan penganut faham Komunis yang
berbahaya dan merusak itu, dan para penyokong aliran-aliran atheisme di zaman
modern. Mereka menghimpun segala kemarahan dan kebencian terhadap Islam;
lantaran Islam itu berasaskan Tauhid dan merupakan Risalah Ilahiyah yang
bertitik tolak dan memusatkan segala-galanya kepada Allah. Semua Rasul Allah
selalu memulai da’wahnya terhadap kaum/ummatnya dengan perkataan: “Sembahlah
olehmu Tuhan-mu; tak ada Tuhan selain Dia.”
Agama adalah fitrah yang diberikan Allah kepada manusia, yang
hakekat fitrah manusia pun sesuai dengan agama itu, dan Tauhid yang sangat
sesuai dengan jiwa manusia; hanya Iblis dan Syaithanlah yang memalingkan dan
mempengaruhi manusia kepada penyembahan thaghut, patung, batu, syaithan, api,
kuasa manusia, dan lain-lain. Aqidah Islam adalah aqidah yang jelas dan tegas, jauh dari
keraguan dan sangkaan serta khayalan (imaginasi). Dengan aqidah yang betul,
manusia mampu mengendalikan hawa nafsunya; dan aqidah inilah yang diperkokoh
oleh akal supaya tetap baik dan sampai pada hakekat yang sebenamya.
Dengan begitu jelaslah bahwa Orientalisme adalah alat yang dipakai
oleh musuh-musuh Islam yang ingin merusak dan menggerogoti da’wah dan ajaran
Islam yang sangat sesuai dengan fitrah manusia tersebut. Para Orientalis
berusaha keras memerangi Islam dengan segala cara, gaya dan dayanya dan dengan
berbagai bentuk; karena tujuan mereka terang-terangan anti dan ingin
menghancurkan Islam itu sendiri. Syukur, Allah selalu melindungi ummat Islam
dan menenangkan ummat Islam, betapapun benci dan lihainya orang kafir.
2. Usaha Orientalisme Dalam Memerangi Islam Dengan Bersenjatakan
Ilmu.
Para Da’i dan Ummat Islam yang antusias terhadap Da’wah
Islamiyah patut sekali mengetahui dan mendalami usaha-usaha yang dilakukan oleh
para Orientalis dalam memerangi Islam sebab mereka itu hakekatnya adalah musuh
Islam yang paling keras.
Mereka (Orientalis) menjadikan ilmu sebagai alat untuk
menggerogoti da’wah Islam dan bersembunyi di balik topeng-topeng pembahasan dan
penelitian ilmiyah. Sebenarnya mereka itu memasukkan bibit-bibit (benih-benih)
kebatilan terutama sekali ke dalam Syari’ah Islamiyah, masalah-masalah Fiqih,
muamallah dan lain-lain, di mana dengan sengaja mereka membikin hal-hal yang
menyesatkan terhadap Angkatan Muda Islam, yang belajar kepada mereka,
memantapkan serta memberikan hal-hal yang membuat orang bungkem dan merasa
cukup terhadap fikiran-fikiran yang merusak dan berbahaya, dan menarik secara
halus agar para mahasiswa yang Belajar dengan Orientalis dan yang belajar di
negara-negara tersebut (Barat) bergabung dengan mereka (Orientalis) dalam
merusak dan mencari-cari kejelekan Islam, tanpa mereka sadari. Bahkan ada
Universitas Orientalis yang mensyaratkan adanya kemampuan mahasiswanya untuk
menjelaskan kejelekan Islam bila mereka hendak mendapat degree
kesarjanaan.
Adapun tulisan-tulisan para Orientalis yang berkenaan dengan
Risalah Islamiyah, Rasul-rasul lain-lain, tegas-tegas membongkar rahasia
kebenciannya yang terpendam terhadap Islam. Salah satu contoh
dapat kita kemukakan di sini, yaitu “apa” yang ditulis oleh salah seorang
Orientalis yang bernama Gold Tziher (Buku-buku karangan Gold Tziher nii di
zaman Belanda dijadikan standard pengetahuan agama di Fakultas-fakultas Hukum).
Untuk mengetahui maksud jahat mereka dan peranannya dalam menindas Islam dan
menggerogoti da’wah Islamiyah dengan menggunakan ILMU sebagai alat dalam
mencapai tujuannya. Orientalis tersebut mengatakan dalam buku yang dikarang oleh
Gold Tziher, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Dr. M. Yusuf Musa
dkk, berjudul AL AQIDAH WAS SYARI’AH FIL ISLAM, halaman 15, berbunyi:
“… Maka pemberitaan-pemberitaan kegembiraan oleh Nabi Arab itu
bukanlah suatu yang baru, melainkan hanya merupakan kutipan-kutipan yang
diambilnya dari pengetahuan-pengetahuan dan pokok-pokok fikiran agama-agama
yang diketahuinya atau diperolehnya akibat hubungannya dengan tokoh-tokoh
Yahudi atau Kristen dan lain-lain. Hal itulah yang berbekas dan berpengaruh
pada Muhammad secara mendalam, yang menurut dia (Muhammad) pantas sekali untuk
membangunkan jiwa dan perasaan keagamaan yang sejati di kalangan
anggota-anggota kaumnya.”
Ini adalah perkataan yang berbisa, yang diulang-ulang oleh para
Orientalist yang terang-terang benci/sentimen, seperti da’wah yang pernah
dilancarkan oleh kaum Musyrikin sejak 14 abad yang lalu, yang langsung dibalas
oleh Allah SWT, sehingga Allah membongkar rahasia, akal dan perbuatan jahat
mereka, dalam surat Al Fufqan ayat 4-6:
Orang-orang
Kafir itu berkata, “Ini tidak lain dari kata-kata dongeng yang diadakan oleh
Muhammad dan ditolong oleh kaum lain; dengan perkataannya itu mereka sudah
mengerjakan keaniayaan dan dosa besar.” Orang Kafir itu
berkata lagi, “Adalah dongeng orang-orang dahulu kala yang dikutipnya; dan
itulah yang didiktekan kepadanya pagi dan sore (terus-menerus). Katakanlah (hai Muhammad), Ajaran ini diturunkan oleh Yang Maha
Tahu rahasia langit dan bumi, dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al Furqan 4-6).
Kemudian Allah membantah dan mematahkan alasan-alasan musyrik
tersebut dengan firman-Nya:
“Jika kamu ragu
pada apa yang Kami turunkan pada hamba-Ku, maka datangkanlah satu surat yang
serupa Qur’an itu, panggil saksi-saksimu yang selain Allah, jika kamu benar,
andaikata kamu tidak sanggup membuatnya, dan pasti kamu tak akan sanggup
berbuat itu, maka takutlah kamu pada api neraka yang sebagai kayu bakarnya
ialah manusia dan batu yang disediakan untuk orang-orang kafir.” (Al Baqarah 23).
Gold Tziher dan konco-konconya di kalangan Orientalis adalah
musuh Islam, melakukan pemurtadan seperti yang dilakukan oleh orang-orang
musyrik Quraisy dahulu kala yang bersikap menentang dan angkuh. Sedangkan orang
musryik Quraisy masih adil (sopan) dalam pembangkangannya, dan akhirnya mereka
itu masuk ke dalam agama Islam dan ikut berjihad pada jalan Allah, dan
pahlawan-pahlawan perang menghadapi musuh-musuh Islam. Adapun Orientalis
selalu saja menyerang Islam, menggerogoti da’wah dengan membikin keragu-raguan
di dalam pemaham-an Al Qur’an. Menimbulkan waham (pendangkalan faham) dengan
memutarbalikkan fakta, dengan membuat hadis-hadis palsu atau mengatakan sendiri
bahwa Rasul sendiri pernah melampaui ketentuan wahyu karena menasakhkan
(membatalkan) wahyu yang pernah turun dengan perintah Allah. Bbegitulah dakwaan
Orientalis tersebut, sebagaimana bisa dilihat pada buku berjudul Aqidah was
Syari’ah fil Islam karangan Gold Thiher halaman 41.
Jelaslah kebencian Orientalis ini, bahkan kebencian itu sudah
mempengaruhi otaknya, karena akalnya yang sehat sudah dipengaruhi oleh hatinya
yang benci, di mana dia mengakui bahwa Muhammad itu Rasulullah, yang merubah
Risalah Tuhan-nya atas perintah Tuhan karena situasi yang memaksa. Apakah ini
masuk di akal? Siapakah Rasul yang membawa Risalah yang berani mendustakan
Allah, dan tetap sebagai Rasul? Tidakkah perkataan Orientalis tersebut suatu
kebencian yang merusak akalnya sendiri dan memutar-balikkan fakta?
Tidakkah pernah orang yang benci itu membaca ayat Allah yang
menangkis tuduhan bohong orang musyrik, yang mengatakan bahwa Muhammad
mengada-adakan kebohong-hohongan? Yaitu surat Al-Haqqah ayat 44-47:
“Kalau dia
(Muhammad) berkata kepada Kami perkataan-perkataan yang lain, niscaya akan Kami
tarik dia dengan kekuatan dan kemudian akan Kami putuskan hubungan yang kuat
itu dengannya, maka tidak akan ada seorang pun yang mampu menghalanginya (membelanya).”
Permusuhan Orientalis terhadap Islam sudah nyata sekali, baik
melalui perkataan (lisan), tulisan-tulisan yang beracun, maupun yang
tersembunyi di dalam hatinya. Ummat Islam harus bersikap hati-hati dan berusaha membongkar
kepalsuan, tipudaya kaum Orientalis yang berselubung di balik semboyan
“kebijaksanaan atau logika” dan ummat Islam wajib kerja keras melaksanakan
Risalah Islamiyah sampai meresap ke dalam akal fikiran dan perasaan dan dapat
diwujudkan dalam kenyataan hidup.
Kita membaca tulisan-tulisan Orientalis mengenai Islam, kalau
topiknya betul, dia masukkan kata-kata tuduhan di sana-sini, maka berbuatlah
dia ibarat pembunuh yang menyerang orang yang lengah. Betapa banyak para
ilmuwan Islam yang tertipu oleh Orientalis ini, dan mentah-mentah mengambil
keterangan, sebagai hukum positif tanpa kritik, bahkan ikut serta bergabung
dengan Orientalis tersebut dalam memerangi Islam, penggerogotan Da’wah,
penyesatan, dan menganggap itulah teori atau program yang terbaik. Na’uzubillah
min zalik. Para Orientalis pada umumnya mempelajari Islam, dengan niat
untuk menghimpun tuduhan terhadap Islam dengan kedok, selubung ilmiyah,
penelitian dan survey tentang hakekat Islam, akan tetapi kefanatikannya
mengalahkannya dari mengatakan kalimat haq.
Maka untuk menghindari dirinya dari Taa’sub (fanatik), kita
harus berusaha menjadikan mereka Sarjana yang murni, yang bersih dan tak palsu
dan tidak zalim. Kaum Orientalis dan pengikut-pengikutnya memang berusaha
menghimpun sifat-sifat positif dan negatif, tapi dalam penghimpunan itu mereka
tak mungkin lupa menyisipkan komentar-komentar yang menyesatkan. Dari itu kita
harus membaca karangan-karangan Orientalis dan lantas kita koreksi dengan
berhati-hati sebab mereka tak mungkin bersih dari pengaruh sentimen nafsu
pertentangan yang telah mereka warisi sejak zaman Perang Salib, dan tak mungkin
lepas dari usaha keras mereka memerangi Islam, menggerogoti Da’wah kebenaran
(membuktikan yang haq dan melenyapkan kebatilan). Islam selalu
menghadapi musuh-musuh yang senantiasa menunggu kesempatan di segala pihak, dan
kaum Muslimin pun selalu menghadapi musuh-musuhnya yaitu Orientalis, pewaris
kaum salib yang memaksa ummat Islam agar selalu sadar dan siaga. Para Da’i
(juru Da’wah) wajib dilengkapi dengan segala perlengkapan ilmu yang luas,
mendalami serta mengetahui apa yang ada pada musuh, supaya mereka dapat membela
agama dari tipu daya musuh dan membatalkan perbuatan jahat musuhnya. Allah
selalu melindunginya.
referensi:
- Aqidah was Syari’ah fil Islam
karangan Gold Thizher
Komentar
Posting Komentar