Fragmen Ruang Sidang
“Yang Gugur Tak Tercatat di Risalah”
---
Ia datang bukan untuk membela. Tapi untuk bertahan — dari dirinya sendiri.
Setelan jasnya masih hitam, seperti para pelayat yang datang terlambat.Di tangan kanan: map.
Di tangan kiri: sunyi.
Lorong menuju ruang sidang tak pernah berubah:
lampu yang kuning lelah, udara pengap yang tak bisa dibersihkan pendingin udara,
dan wangi yang tak bisa dijelaskan —
percampuran antara tinta, keringat, dan sesuatu yang menyerupai penyesalan.
Ia melangkah tanpa suara.
Karena di gedung ini, suara bukan untuk menyuarakan.
Hanya untuk menyamakan irama —
irama diam.
Dulu ia bicara tentang pasal. Tentang doktrin. Tentang keadilan.
Sekarang ia lebih banyak bicara dalam matanya sendiri, di depan cermin kamar mandi.
“Apa bedanya aku dan mereka yang kubenci?”
“Apakah menolak sistem adalah bentuk pengkhianatan,
atau justru pengkhianatan terbesar adalah beradaptasi terlalu lama?”
Setiap berkas yang ia tulis kini terasa seperti surat permintaan maaf yang tak pernah ia kirimkan.
Bukan ke hakim. Bukan ke lawan. Tapi ke bagian dirinya yang dulu percaya,
bahwa jika logika dijaga, kebenaran akan bertahan.
Ternyata tidak.
Logika bisa disusun. Fakta bisa diseragamkan.
Tapi keadilan—
ia terlalu ringan untuk diletakkan di meja hakim,
terlalu sunyi untuk disisipkan dalam bukti P-12.
Kadang, ia duduk di kantin belakang, diam.
Di hadapannya: kopi hitam, dan amplop yang tak pernah dibuka di depan umum.
Kadang ia ingin bertanya:
“Apa kita masih manusia jika terus bertransaksi dengan hati nurani?”
Tapi pertanyaan begitu terlalu mahal.
Tak ada replik untuk itu. Tak ada duplik. Tak ada pasal penutup.
Hari itu, ia menang perkara.
Putusan dibacakan dalam tempo yang pas.
Seolah dunia masih adil dan hukum masih suci.
Orang-orang bersalaman. Klien tersenyum.
Tapi ia hanya memeluk mapnya —
bukan sebagai trofi,
melainkan sebagai nisan.
Karena yang gugur hari itu,
bukan pihak lawan.
Bukan prinsip.
Tapi sisa kecil dari dirinya sendiri,
yang masih percaya bahwa hukum bisa menang tanpa uang.
Malamnya ia pulang.
Tak ada angin. Tak ada hujan.
Hanya satu lembar memo jatuh dari mapnya,
tertulis tangan, tinta mulai pudar:
"Jangan belajar hukum jika kau tak siap mencium bau kematian dari dalam dirimu sendiri."
Ia tersenyum.
Lalu mati — bukan secara harfiah, tapi dalam cara yang hanya bisa dirasakan oleh mereka
yang terlalu lama berdiri di ruang sidang tanpa pernah benar-benar duduk dalam nurani.
Komentar
Posting Komentar