Filterisasi sejarah dan kontroversi




"Banyak tokoh-tokoh yang melahirkan cerita menarik. Ada yang bergerak diwilayah akademisi dan ada pula diwilayah pergerakan. Dalam cerita mereka pun mungkin banyak kejadian yang kita anggap kontroversial. Misalnya saja "Founding Father" kita Ir. Soekarno. Dalam satu sisi beliau merupakan aktor utama kemerdekaan indonesia, namun disisi lain beliau dinilai kontroversi jika dianalisis sejarah dalam sisi kehidupan cintanya. selanjutnya, ada Tan Malaka yang memilki beribu ide dan gagasan untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Namun, disisi lain Tan Malaka dalam pemikirannya dianggap bisa menggulingkan bangsa kita, yaitu beliau seorang marxisme. Keduanya merupakan tokoh-tokoh nasional yang memilkiki cerita yang unik yang kontroversial. Adapun Gus dur, beliau adalah presiden RI ke 4, namun pemikiran beliau dianggap sangat liberal oleh sebagian orang.

Diluar wilayah Indonesia, kita menemukan sosok pemikir pejuang kaum proletariat yaitu Karl Marx dengan teori sosialnya tentang kelas ekonomi dalam mencapai tujuan akhir yaitu keadilan sosial. walaupun dianggap kontroversial yaitu lebih menekankan eksistensial dari materialisme namun ada nilai-nilai keIslaman disana yaitu keadilan sosial. Tarik kebeberapa abad sebelumnya yaitu Galileo galilei yang pada konklusinya dia mengatakan bahwa bumi ini datar dan pada saat itu juga dia dianggap gila dan digantung mati. Selanjutnya Charles Darwin tentang teorinya, Evolusi. Walaupun bersifat kontroversi namun teori sampai sekarang masih dijadikan pedoman oleh sebagian ilmuwan. Banya lagi tokoh-tokoh pemikir dan pergerakan yang dinilai kontroversi oleh kalangan masyarakat.

Dalam sedikit tulisan ini, saya dapat menarik kesimpulan bahwa dari semua tokoh-tokoh yang ada memiliki nilai/value yang oleh sejarah merupakan peristiwa yang harus dicatat dan digaris bawahi agar dimasa yang akan datang bisa dijadikan pegangan oleh anak cucu terlepas dari bagaimana menilainya. Namun banyak juga oknum yang dengan sengaja memberikan informasi yang tidak akurat bahkan sedikit merubah arah jarum sejarah sehingga banyak kalangan yang keliru dalam menilai maupun menarik kesimpulan. Dalam titik ini akhirnya banyak anggapan yang tidak pada jalurnya. Seorang pahlawan bias menjadi penjahat dan sebaliknya. Maka dari itu, bagi pemikir tentunya harus memiliki filterisasi agar dapat menilai mana benar dan salah disamping harus di isi dengan literature yang memadai. Jujun Suriasumantri pun dalam bukunya filsafat ilmu mengatakan dalam memperoleh informasi yang belum dapat dikatakan benar dan salah kita harus memiliki beribu asumsi. Dalam filterisasi ini, banyak kalangan yang menggunakan pisau bedah filsafat. Karena mereka menilai, filsafat sebagai mother of science adalah alternative solusi dalam masalah ini. Disamping banyak pisau bedah yang lain. Karena setiap sejarah memiliki misteri yang mungkin kita tidak tahu kebenarannya. Dan akhirnya walaupun dalam kriteria kebenaran disebutkan batasan/tolak ukur benar dan tidak benar namun dalam konteks manusia yang berbicara sejarah saya simpulkan sangat relative. Karena manusia cenderung subjektif dalam segala aspek. Setiap ucapan manusia mengandung kepentingan subjektifitas.

Wallahu A’lam Bishawab...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fragmen Ruang Sidang

TEORI HUKUM PEMBANGUNAN

Kejahatan Adalah Ketiadaan Kebaikan