Teori Pengetahuan (Epistemologi)
Pertentang
penganut Paham Rasionalis dan Penganut Paham Empiris tentang penentuan sebuah pengetahuan
Dalam hal ini plato (abad ke-5 SM) berpendapat bahwa pengetahuan adalah fungsi mengingat kembali informasi-informasi yang telah lebih dahulu diperoleh. Plato meyakini bahwa jiwa manusia ada sebelum raga itu ada. Selain itu pula, plato beranggapan bahwa sebelum manusia memulihkan pengetahuan-pengetahuannya melalui penginderaan gagasan atau ide tertentu, yaitu dengan membayangkan realitas-realitas azali (abadi) di dunia yang didalamnya. Pengetahuan kita mengenai manusia universal yaitu ide manusia secara universal, tak lain adalah pengingatan kembali realitas abstrak yang telah kita lupakan. Kita dapat mengingatnya kembali dengan menginderai manusia tertentu atau individu tertentu yang mencerminkan realitas abstrak itu di alam materi.
Jadi, konsepsi-konsepsi umum itu mendahului penginderaan. Penginderaan tidak akan terlaksana kecuali dengan proses melacak dan mengingat-ingat kembali konsepsi-konsepsi tadi. Pengetahuan-pengetahuan rasional tidak berkaitan dengan hal-hal partikular (bayangan atau pantulan) dalam alam indera, tetapi ia hanya berkaitan dengan realitas-realitas universal abstrak tersebut.
Salah
satu perdebatan besar sekitar pengetahuan manusia yang berkaitan dengan
filosofi adalah diskusi yang mempersoalkan sumber-sumber dan asal usul
pengetahuan dengan meneliti, mempelajari dan mencoba mengungkapkan
prinsip-prinsip primer kekuatan struktur pikiran yang dianugrahkan oleh Tuhan
kepada manusia, sehingga memunculkan beberapa pertanyaan besar dalam diri
manusia, yaitu; Bagaimana pengetahuan itu muncul pada manusia? Bagaimana
kehidupan intelektualnya tercipta sejak dini? Dan apakah sumber yang memberikan
kepada manusia, arus pemikiran dan pengetahuan ini?
Sebelum menjawab
permasalahan-permasalahan tersebut, kita haruslah mengetahui terlebih
dahulu bahwa terdapat dua garis besar pembagian pengetahuan. Pertama, Konsepsi
atau pengetahuan sederhana, hal tersebut dapat dicontohkan dengan penangkapan
kita, seperti pengertian panas atau cahaya atau suara. Kedua, Tasdiq
(Assent atau pembenaran) yaitu pengetahuan yangm mengandung suatu penilaian,
sebagai contohnya panas itu adalah energi yang datang dari matahari, dan bahwa
matahari lebih bercahaya dari bulan dan bahwa atom itu dapat meledak dan
sebagainya.
A. Konsepsi dan Sumber Pokoknya
Dalam
perjalanan sejarah filsafat, permasalahan yang ada pada paragraph pertama
telah menghasilkan beberapa pemecahan yang di rangkum dalam beberapa teori
pendukung dari konsepsi (pemikiran sederhana) sebagai berikut:
1. Pengingatan Kembali (Plato)
Dalam hal ini plato (abad ke-5 SM) berpendapat bahwa pengetahuan adalah fungsi mengingat kembali informasi-informasi yang telah lebih dahulu diperoleh. Plato meyakini bahwa jiwa manusia ada sebelum raga itu ada. Selain itu pula, plato beranggapan bahwa sebelum manusia memulihkan pengetahuan-pengetahuannya melalui penginderaan gagasan atau ide tertentu, yaitu dengan membayangkan realitas-realitas azali (abadi) di dunia yang didalamnya. Pengetahuan kita mengenai manusia universal yaitu ide manusia secara universal, tak lain adalah pengingatan kembali realitas abstrak yang telah kita lupakan. Kita dapat mengingatnya kembali dengan menginderai manusia tertentu atau individu tertentu yang mencerminkan realitas abstrak itu di alam materi.
Jadi, konsepsi-konsepsi umum itu mendahului penginderaan. Penginderaan tidak akan terlaksana kecuali dengan proses melacak dan mengingat-ingat kembali konsepsi-konsepsi tadi. Pengetahuan-pengetahuan rasional tidak berkaitan dengan hal-hal partikular (bayangan atau pantulan) dalam alam indera, tetapi ia hanya berkaitan dengan realitas-realitas universal abstrak tersebut.
2. Teori Rasional (Descartes (1596-1650) dan Immanuel
Kant (1724-1804))
Descartes
dan Kant beranggapan bahwa teori pengetahuan terangkum dalam kepercayaan adanya
dua sumber bagi konsepsi, yaitu; Pertama,penginderaan (sensasi), dan yang kedua, fitrah.
Indera menurut teori tersebut adalah sumber pemahaman terhadap
konsepsi-konsepsi dan gagasan-gagasan sederhana. Tetapi, ia bukan satu-satunya
sumber. Ada juga fitrah yang mendorong munculnya sekumpulan konsepsi dengan
akal. Namun kedua konsepsi tersebut dipatahkan oleh kaum empirisme yang
dipelopori oleh Jonhn Locke dan setelahnya Berkeley dan David Hume.
Ada
penapsiran lain mengenai teori rasionalisme, yakni gagasan dan ide fitrah itu
ada dalam jiwa secara potensial. Ia mendapatkan sifat aktualnya dengan evolusi
dan integrasi mental jiwa. Jadi konsepsi-konsepsi fitrah bukan bersumber dari
indera, akan tetapi ia dikandung oleh jiwa tanpa disadarinya. Meskipun demikian
dengan integrasi jiwa ia menjadi sebuah pengetahuan dan informasi yang dapat
kita ingat kembali, lantas bangkit kembali, setelah sebelumnya ia tersembunyi
dan ada secara potensial.
3. Teori Empirikal
Teori ini beranggapan
bahwa penginderaan adalah satu-satunya yang membekali akal manusia dengan
konsepsi-konsepsi dan gagasan, dan (potensi mental akal budi) adalah potensi
yang tercermin dalam berbagai persepsi inderawi. Jadi ketika kita mengindera
sesuatu, kita dapat memiliki suatu konsepsi tentangnya, yakni menangkap makna
dari sesuatu dalam akal budi kita. Akal budi berdasarkan teori ini hanyalah
mengelola konsepsi gagasan inderawi.
4. Teori Disposesi
Teori
ini secara umum terbagi menjadi dua konsep, yaitu konsepsi-konsepsi primer dan
konsepsi-konsepsi skunder. Konsepsi
Primer adalah dasar konseptual bagi akal manusia. Ini lahir
dari persepsi inderawi secara langsung terhadap kandungan-kandungannya. Teori
disposesi juga dikenal dengan teori sebab-akibat, karena konsepsi merupakan
turunan dari konsepsi primer seperti contoh bahwa air akan mendidih pada suhu
1000C mengapa bisa mendidih itu adalah pertanyaan yang paling
sederhana, dan jawabannya juga harus sederhana yaitu air mendidih karena dipanaskan.
B. Tashdiq dan Sumber Pokoknya
Permasalahan
yang sering terjadi dalam istilah pembenaran adalah persoalan mengetahui sumber
pengetahuan sebagai pembenaran dan asas-asas bangunan pengetahuan manusia
dengan benang-benang utama apakah sejumlah besar penilaian dan pengetahuan
dipintal, apakah prinsip yang dicapai pengetahuan manusia dalam menjelaskan,
yang dianggap sebagai kriteria primer-umum untuk membedakan kebenaran dari
hal-hal lain.
Beberapa
aliran filsafat mencoba menjawab persoalan tersebut, berikut akan disajikan
pemikiran pembenaran berdasarkan teori empirikal, filsafat islam dan sistem
berpikir islami secara umum berdasarkan aliran rasional, sementara aliran
empirikal mendominasi beberapa paham dalam materialisme.
1. Doktrin Rasional
Dalam
pandangan kaum rasionalis pengetahuan manusia terbagi menjadi dua yaitu; pertama pengetahuan
yang mesti (intuitif), adalah akal mesti mengakui suatu proposisi tertentu
tanpa mencari dalil atau bukti kebenarannya. Intinya dalam pandangan pertama ini
mengisyaratkan bahwa tiada peristiwa tanpa suatu sebab, sifat-sifat berlawanan
tidak akan harmonis dalam suatu subjek, keseluruhan lebih besar dari sebagaian
dan satu adalah separuh dari dua. Kedua informasi dan pengetahuan teoritis. Akal tidak akan mempercayai
beberapa proposisi, kecuali dengan pengetahuan-pengetahuan terdahulu. Penilaian
atas proposisi tersebut bergantung pada proses pemikiran dan penggalian
kebenaran-kebenaran yang lebih dahulu dan lebih pasti darinya. Pengetahuan
teoritis harus bersandarkan pada pengetahuan-pengetahuan primer yang mesti.
Jika pengetahuan itu disingkirkan dari akal manusia, orang tidak akan pernah
sampai pada pengetahuan teoritis sama sekali.
Jadi
doktrin rasional menjelaskan bahwa landasan pengetahuan adalah informasi
primer, dan di atas informasi itulah berdiri bangunan-bangunan pemikiran
manusia yang disebut dengan informasi skunder. Proses penggalian pengetahuan
secara teoritis dari pengetahuan-pengetahuan sebelumnya adalah proses yang
disebut dengan pemikiran atau berpikir.
2. Doktrin Empirikal
Doktrin
empirikal berpendapat bahwa pengalaman adalah sumber pertama semua pengetahuan
manusia. Karena itu, jika manusia memiliki pengalaman dalam segala bentuknya,
ia akan mengetahui realitas apapun. Pernyataan tersebut manunjukkan bahwa
manusia dilahirkan dalam keadaan tidak memiliki pengetahuan. Kesadaran dan
pengetahuannya diperoleh dari kehidupan praktisnya. Semakin luas dan semakin
bervariasi pengalamannya, maka semakin bervariasi dan luas pula pengetahuannya.
Dari
uraian di atas maka terjadi dua perbedaan yang sangat mencolok antara penganut
paham rasional dan paham empirik. Perbedaannya dapat terlihat ketika penganut
paham rasional percaya bahwa berpikir itu dimulai dari yang umum ke khusus,
tapi sebaliknya kaum pengenut paham empirik memandang bahwa berpikir itu
dimulai dari yang khusus ke yang umum.
Dari pemikiran kaum
empirik banyak sekali terjadi penolakan-penolakan dari berbagai pihak. Berikut
akan dipaparkan beberapa hal yang berhubungan dengan penolakan tersebut sebagai
berikut:
Pertama:apakah
prinsip itu sendiri (pengalaman adalah kriteria pokok untuk mengenali realitas)
adalah pengetahuan primer yang diperoleh manusia tanpa pengalaman sebelumnya.
Ini berarti bahwa pada mulanya kita tidak tahu bahwa pengalaman adalah kriteria
logis yang dijamin kebenarannya;
Kedua:
ide filosofis yang bertumpu pada doktrin empirikal tidak mampu mengukuhkan
materi, karena materi tak mungkin diungkapkan dengan pengalaman semata, akan
tetapi yang tampak oleh indera dalam wilayah-wilayah eksperimental hanyalah
fenomena-fenomena aksiden;
Ketiga:
kalau jelajah pemikiran itu terbatas pada pengalaman dan tidak memiliki
pengetahuan-pengetahuan yang terlepas dari pengalaman, tentu ia tidak akan
menentukan kemustahilan sesuatu pun sebab kemustahilan dalam arti tidak adanya
kemungkinan terwujudnya sesuatu bukanlah termasuk dalam pengalaman.
Keempat: prinsip
kausalitas tidak mungkin dibuktikan dengan doktrin empirikal. Teori empirikal
tidak mampu memberikan penjelasan yang benar mengenai kausalitas sebagai suatu
gagasan konseptual.
Atas dasar beberapa hal
tersebut, ada dua kemungkinan bagi kaum empirik mengakui kemustahilan
hal-hal tertentu, seperti hal-hal yang telah dikemukakan oleh kelompok kedua,
atau mengingkari ide kemustahilan segala sesuatu.
1. Marxisme dan pengalaman
Marxisme
beranggapan bahwa titik tolak pengetahuan adalah indera dan pengalaman. Dan
derajat tinggi bagi pengetahuan itu ialah penciptaan pengertian ilmiah dan
teori yang mencerminkan realitas empirikal secara mendalam dan akurat. Dari
pendapatnya ini, marxisme memberikan sebuah catatan bahwa pendapat tersebut
dalam bentuknya yang jelas akan membawanya ke doktrin rasionalis, sebab
pendapat ini mengasumsikan adanya wilayah (medan) pengetahuan manusia diluar
batas-batas pengalaman yang sederhana, sehingga ia menegakkan dasar kesatuan
teori dan aplikasi serta kemustahilan memisahkan yang satu dengan yang lainnya.
Sebagai garis besarnya, marxisme mempertahankan tempat pengalaman, doktrin
empirikal, dan menganggapnya sebagai kriteria umum bagi pengetahuan manusia.
Mao
Tse Tung, berkata bahwa langkah pertama untuk memperoleh pengetahuan adalah
melakukan kontak langsung dengan lingkungan luar (ini adalah tahap
penginderaan). Langkah kedua adalah semua informasi yang diperoleh dari
penginderaan dikumpulkan dan di tata (ini adalah tahap pemahaman, penilaian dan
penyimpulan).
Selanjutnya
marxisme tampaknya mengakui ada dua tahapan bagi pengetahuan manusia. Meskipun
demikian, ia tidak mau menerima adanya pengetahuan yang terpisah dari
pengalaman inderawi. Dan ini merupakan dasar kontradiksi mendasar, yaitu jika
akal tidak memiliki pengetahuan tertentu yang lepas dari pengalaman
inderawi, maka ia tidak akan dapat membuat teori berdasarkan persepsi inderawi,
dan tidak akan dapat memahami proposisi-empirikal, karena penyimpulan gagasan
tertentu dari fenomena-fenomena inderawi yang dialami mungkin bagi orang yang
mengetahui bahwa fenomena-fenomena seperti itu, kemudian ia mendasarkan
penyimpulan teori tertentunya itu pada pengetahuan ini.
Jika
sejak semula kita memisahkan pengetahuan rasional yang madiri dari pengalaman
inderawi, maka kita tidak akan dapat bergerak dari tahap penginderaan ke tahap
teori dan penyimpulannya, dan tidak akan dapat memastikan kebenaran teori dari
penyimpulan tersebut dengan kembali kepada aplikasi dan pengulangan pengalaman
2. Pengalaman inderawi dan bangun filsafat
Kontradiksi
tajam antara doktrin rasionalis dan doktrin empirikal bukan hanya dalam
batas-batas teori pengetahuan saja. Pengaruhnya yang membahayakan bahkan
menjangkau kesegenap bangunan filsafat. Sejak kontradiksi itu terjadi, banyak
sekali pengaruhnya pada filsafat, namun hal ini tetap menjadi pijakan awal
filsafat untuk terus mengembangkan pemikiran-pemikiran ilmiahnya.
Filsafat
tetap menguasai bidang intelektual manusia sampai eksperimen mulai unjuk diri
dan memainkan perananya dalam banyak bidang dengan berangkat dari yang
partikular hingga ke yang universal dari subjek-subjek eksperimen ke
hukum-hukum yang lebih umum dan lebih menyeluruh, karena filsafat menjadi
menyusut dan terbatas pada bidang pokoknya dan membuka jalan bagi lawannya ilmu
pengetahuan untuk aktif di bidang-bidanag lain.
Dualitas
antara filsafat dan ilmu pengetahuan berkembang disebabkan oleh perbedaan keduanya
dalam sarana dan subjek pemikiran. Dualitas ini diterima oleh para rasionalitas
namun para pendukung doktrin empirikal terus menyudutkan filsafat sebagai
bidang yang berdiri sendiri yang terlepas dari ilmu pengetahuan. Sebab
pendukung doktrin empirikal tidak mengakui setiap pengetahuan yang tidak
berdasarkan pengalaman.
Dari
berbagai macam permasalahan yang ditimbulkan dari pendukung doktrin rasionalis
dan doktrin empirikal, menyebabkan lahirnya dua aliran berikut:
1. Aliran positivistis dan filsafat
Aliran
positivistis tumbuh subur pada abad-19 ketika empirisme mendominasi.
Positivistisme lahir dan berkembang dibawah naungan empirisme. Materialisme
positivis menyerang mati-matian filsafat dan subjek-subjek metafisikanya, dan
aliran ini beranggapan bahwa proposisi-proposisi filsafat tidak bermanfaat bagi
kehidupan praktis dan tidak dapat dibuktikan dengan metode ilmiah, dan bahkan
aliran ini beranggapan bahwa proposisi-proposisi ini bukan dalam arti logis
meskipun kata-katanya berbentuk proposisi. Dan lebih ekstrimnya, aliran
positivistis beranggapan bahwa pemikiran filsafat hanya omong kosong dan
tidak berarti apa-apa dan tidak mungkin menjadi pembahasan dan penelitian.
2. Marxisme dan Filsafat
Tidak
jauh berbeda dengan aliran positivistis, karena marxisme juga menolak
sepenuhnya filsafat yang lebih tinggi dikenakan pada ilmu-ilmu pengetahuan dan
yang tidak muncul dari ilmu-ilmu pengetahuan itu. Sebab marxisme baik dalam
pandangan maupun metode berpikirnya empirikal dan hal ini wajar jika marxisme
tidak memberikan tempat bagi metafisika dalam pembahasan-pembahasannya. Akan
tetapi marxisme memerlukan filsafat ilmiah, yaitu materialis dialektis, dan
mengklaim filsafat itu berdasarkan ilmu-ilmu alam dan menjadi kuat berkat
perkembangan ilmiah dalam berbagai bidang
Analisis
Dari keseluruhan uraian
di atas, dapat di ambil sebuah kesimpulan bahwa antara filsafat dan ilmu
pengetahuan sungguhnya memiliki kaitan yang sangat erat. Meskipun demikian
filsafat tidak membutuhkan pengalaman inderawi, tetapi langsung menyimpulkan
teori filosofis dari pengetahuan rasional terdahulu.
Dari pertentangan antara
para pendukung dua doktrin yang saling berlawanan, banyak sekali
pelajaran yang dapat diperoleh dari keduanya. Hingga saat ini pemikiran-pemikiran
yang berkaitan dengan keilmuan serta teori-teori yang berkembang sekarang
lahir dari perdebatan dari kedua penganut doktrin tersebut.
Referensi
Sumber pokok pengetahuan, BAB I
Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Jujun
Suriasumantri, Jakarta, Sinar Harapan, 1990
Komentar
Posting Komentar